Jumat, 25 Januari 2013

tugas 4 aturan-aturan sekolah


ATURAN – ATURAN SEKOLAH

Peraturan di sekolah di buat untuk menciptakan
Ketertiban dan keamanan di lingkungan sekolah.
Semua warga sekolah hars mematuhi tata
tertib yang berlaku.

A.      Peraturan Sekolah dan Manfaatnya

Peraturan dibuat untuk dilaksanakan, bukan untuk dilanggar. Tujuannya agar bisa hidup tertib, saling menghormati, dan saling menguntungkan.
                Peraturan di sekolah dirundingkan dan dibuat bersama-sama oeh guru dan siswa. Jadi peraturan sekolah bukan hanya dibuat oleh guru dan bukan pula oleh siswa. Peraturan meerupakan asil musyawarah bersama. Oleh karena itu, peraturan sekolah berlaku untuk semuanya.
                Peraturan ada yang tertulis dan ada juga yang  tidak tertulis. Akan tetapi, peraturan tertulis maupun tidak tertulis, semua orang harus mematuhi dan melaksanakannya.
                Menurut peraturan yang tertulis, guru maupun siswa harus datang tepat waktu dan plang setelah bel pulang berbunyi. Jika salah seorang terlambat datang ke kelas, yang lain akan merasa terganggu. Misalnya, jika seorang siswa datang terlambat msuk kelas, kegiatan belajar di kelas akan terhenti sejenak.
                Contoh peraturan sekolah tertulis lainnya, semua siswa harus memakai pakaian seragam sekolah. Tujuannya agar semua siswa terlihat rapi dengan pakaiannya. Pakaian searagam dapat mengurangi perbedaan antara siswa kaya dan miskin. Perbedaan kaya dan miskin bisa mengganggu hubungan antar siswa di sekolah.
                Setiap sekolah memiliki peeraturan tertulis tentang kewajiban menjaga kebersihan dan keindahan. Tujuanny agar lingkungan sekolah tetap beersih dan terlihat indah. Peraturan itu bukan hanya untuk dihafal dan diingat, melainkan untuk dilaksanakan.
                Adapun contoh peraturan sekolah yang tidak tertulis, antara lain tidak jajan sembarangan, menabung dan ikut menjadi anggota kopeerasi sekolah.
                Membiasakan hidup tertib di sekolah dapat kebiasaan hidup di rumah dan di lingkungan rumah. Misalnya siswa terbiasa antre masuk sekolah. Dia juga akan antre ketika membeli tiket kereta. Hidup tertib dan kebiasaan antre dapat dilatihkan dan dipraktikkan di sekolah.
                Ketika guru Pengetahuan Sosial menjelaskan tentang peraturan sekolah, tiba – tiba Ami mengangkat tangan sambil berkata, “Ibu guru bagaimana kalau kita mempelajari peraturan yang ada, jenis-jenis pelanggaran dan akibat-akibatnya?”
                “Usul yang baik, Ami. Akan tetapi, sebelum melakukan kegiatan itu dulu soal ini, kata ibu guru mengakhiri pelajarannya.

B.      Mempelajari Peraturan Sekolah

“Anak-anak, pada pertemun lal pertanyaan Ami belum dapat dijawab. Pertanyaan dan usulannya adalah agar semua siswa mempelajari peraturan sekolah, pelanggaran-pelanggarannya, dan akibat-akibatnya. Oleh karena itu, ibu akan menugaskan kalian secara perorangan, “kata Ibu guru ketika memulai pelajaran.
                Tugas kalin melihat, mengamati dan merasakan peeraturan yang sering dilanggar oleh kita semua. Ibu juga akan menugaskan apa yang kalian rasakan selama ini di sekolah. Lakukan kegiatan ini di dalam atau di luar kelas. Kalian dapat mengerjakan tugas ini pada jam pelajaran Pengetahuan Sosial, waktu istirahat atau pulang sekolah. Setelah itu kalian harus membuat laporan dan mengajukan beberapa usulan,” lanjut ibu guru.
                Para siswa kemudian melakukan pengamatannya masing-masing, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
                Seperti biasa, Ami, Ucok, dan Leoni sebagai sahabat dekat memulainya dengan berdiskusi. Mereka membahas masalah yang paling sering terlihat dan terasa oleh mereka.
                Hasil diskusi tersebut didapatkan tiga hal yang akan diamati . Pertama, halaman sekolah khususya di daerah kantin yang sering kotor karena sampah. Kedua, keadaan WC sekolah yang kotor dan bau. Ketiga, Masalah jalan di depan sekolah yang sering macet. Kemacetan sering terjadi pada saat jam sebelum dan sesudah kegiatan di sekolah.
                Selanjutnya mereka membagi tugas masing-masing. Leoni mengamati anak-anak yang jajan di kantin. Ucok mengamati keadaan WC di sekolah. Aapun Ami mengamati kemacetan yang serng terjadi di depan sekolah.
                Setelah selesai , semua siswa membuat laporan kelas. Leoni, Ami, dan Ucok jga melaporkan hasil pengamatannya.

Menjaga Kebersihan Lingkungan dan halaman sekolah.

“Kita mempunyai peraturan tertulis tentang ketertiban, kebersihan, dan keindahan yang disingkat menjadi K3. K3 sudah ditempel di dinding sekolah. Setelah saya amati, kebersihan sekolah tidak terjaga dengan baik.  Anak-anakyang jajan dikantin, masih suka membuang sampah ke sembarangan tempat. Tempat sampah yang ada tidak digunakan. Padahal, membuang sampah sembarangan merugikan orang lain, selain telah langgar k3,” jelas Leoni membuka laporannya.
“ Oleh karena itu, usulan saya adalah sebagai berikut.
1.       Memberikan sanksi terhadap mereka yang membuang sampah sembarangan
2.       Menyediakan tempat sampah lebih banyak tempat
3.       Menghias tempat sampah menjadi tempat yang bagus dan indah agar kita mau mendekatinya untuk membuang sampah sampah disana, “ papar Leoni.

“Apa bentuk sanksi trhdap mereka yan membuang sampah sembarangan, Leoni?” tanya Ibu Guru.
“ Kita minta dia untuk mencari  sepuluh buah sampah dihalaman dan membuangnya ke tempat sampah,” jawab Leoni.
“ Bagus sekali usulannya, Leoni. Apakah semua setuju?” tanya Ibu Guru.
“ Setuju,” seru seluruh siswa.
“ Mudah- mudahan usulan Leoni dapat kita laksanakan bersama. Usulan memperbanyak tempat sampah akan ibu sampaikan kepada Kepala Sekolah. Adapun usulan menghias tempat sampah dapat kita laksanakan bersama. Mudah-mudahan minggu depan kita akan melaksanakannya, kata Ibu Guru.

Menjaga Kebersihan WC  Sekolah
“ Saya setuju dengan usulan Leoni, Bu. Kebersihan dan keindahan adalah tanggung jawab kita semuanya. Sekolah yang kotor karena sampah pasti akibat tindakan penghuninya, yaitu kita semua,” Ucok menambahkan.
“ Betul sekali. Sekalian saja, coba apa yang akan kamu laporkan dan usulkan dari hasil pengamatanmu,” kata Ibu Guru.
“ Saya mengamati keadaan WC sekolah WC disekolah kita menjadi tempat yang kotor dan bau. Kemungkinan, penyebabnya orang tidak membersihkan lagi atau menyiramnya dengan air. Selain itu, banyak juga orang yang membuang  sampah di WC,” Kata  Ucok.
“ Bagaimana kamu tahu kalau orang yang buang air kecil (kencing) di WC dan tidak disiram kembali? Pasti kamu mengintip, ya?” tanya temannya diikuti dengan tawa seluruh kelas.
“Bukan mengintip, saya hanya menduga. Kenyataannya, WC di sekolah kita kotor dan bau,” jawab Ucok.
“ Akan tetapi, WC sekolah menjadi bau juga disebabkan aliran air ke sana tidak lancar. Hal ini menambah buruk keadaan WC kita,” jelas Ucok.
Ucok melanjutkan, “ Oleh karena itu, saya mengusulkan beberpa hal, yaitu sebagai berikut.
1.       Membuat pengumuman yang ditempel pada dinding WC
2.       Sama seperti usulan Leoni, saya mengusulkan agar ada sanksi terhadap mereka yang tidak menjaga kebersihan di WC. Sanksinya menyuruh dia membersihkan WC, misalnya.
3.       Melatih kita semua untuk menggunakan WC. Kemungkinan siswa yang tidak menjaga kebersihan di WC disebabkan tidak memiiki keterampilan menggunakan WC.”

“ Sebelum ibu bertanya pada kalian, ibu akan menyatakan setuju atas usulan Ucok. Kebetulan, Ibu sudah punya rencana melatih kalian antre ke WC. Ibu juga akan melatih kalian cara menggunakan WC dengan baik. Oleh karena itu, pada pelajaran yang akan datang kalian harus membawa peralatan yang diperlukan. Misalnya, sikat untuk membersihkan WC. Selain itu, kalian harus membuat pengumuman berisi tulisan yang diusulkan Ucok. Tulisan yang paling baik akan ditempel di WC sekolah, “ kata Ibu Guru menanggapi usulan Ucok.

Ketertiban di Lingkungan Sekolah
Ami mendapat giliran terakhir melaporkan hasil pengamatannya. Dia membacakan hasil pekerjaannya.
“ Masalah yang ada di sekolah kita adalah masalah tertib masuk dan keluar sekolah. Saya mengamati kegiatan orang yang keluar-masuk sekolah. Saya juga mengamati ketidakteraturan di depan sekolah kita.
Banyak mobil dan angkutan kota berhenti didepan  sekolah. Kendaraan tersebut menaikkan dan menurunkan penunpang seenaknya. Apalagi ada beberapa siswa yang sengaja menunggu  kendaraan di depan sekolah. Padahal di sana ada larangan berhenti dan parkir bagi kendaraan beermotor,” kata Ami.
“ Kata Bapak, tanda S dicoret berarti dilarang berhenti. Tanda P dicoret berarti dilarang parkir. Diantara teman-teman kadang-kadang menunggu angkutan kota didepan tanda tersebut. Akibatnya, sopir angkutan kota pun menghentikan mobilnya di depan tanda tersebut.
“ Suasana di depan sekolah menjadi tidak teratur. Banyak diantara siswa kesulitan keluar atau masuk sekolah. Teman-teman juga sering menyeberang jalan di sembarangan tempat. Padahal, zebra cross atau tempat menyeberang telah disediakan. Namun, Diantara kita lebih sering menyeberang jalan persis didepan gerbang masuk sekolah kita. Ternyata, kebiasaan antre, tertib dan taat terhadap peraturan itu  susah dilaksanakan,” jelas Ami.
“Apakah kalian merasakan dan melihat hal yang sama seperti yang Ami sebutkn tadi?” tanya Ibu Guru.
“ Betul, Bu, “ jawb siswa serentak .
“Akan tetapi, jika ada bapak dan ibu polisi, keadaan lalu lintas pasti akan menjadi lancar,” jawa siswa yang lain.
“ Lalu usul mu apa Ami?” tanya Iu Guru.
“ Usul saya adalah melatih kita semua cara anter keluar dan masuk sekolah. Kita juga perl berlatih cara menyeberang jalan yang baik dan cara naik turun angkutan kota yang benar.  Kita juga perlu mengenal rambu-rambu lalu lintas. Mungkin belum semua diantara kita mengetahui apa arti S dan P yang dicoret,’’ Kata Ami.
“Kebetlan yang diusulkan Ami sudah menjadi rencana pelajaran Ibu pada pertemuan yang akan datang.
Ternyata, usulan kalian bagus-bagus. Ibu setuju atas usulan kalian semua. Ibu akan melatih kalian berbagai keterampilan yang diusulkn Ami,” janji Ibu Guru.
“ Lalu, bagaimana dengan sopir angkutan yang berhenti seenaknya dimulut gerbang sekolah kita, Bu?” tanya Leoni.
“Itu bukan urusan kita, melainkan menjadi tanggung jawab bapak dan ibu polisi. Namun, jika Ibu sebagai penumpangnya, Ibu akan menegur sopir angkutan yang melanggar tersebut. Ibu sendiri tidak akan meminta supir  menghentikan kendaraannya di tempat yang dilarang. Jadi, kita pun sebagai penumpang tidak mendorong pengemudi berbuat salah jawab Ibu Guru.
Semua siswa mengingat- ingat betul kata-kata Ibu Guru. Mereka berjanji akan mempraktikkan peraturan-peraturan yang ada, seperti antre, tertib membuang sampah, dan menaati peraturan sekolah. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar